Parenting Santri

Anak Tidak Betah di Pesantren? Langkah Saat Ia Minta Pulang

Oleh Muhammad Uwais Al Qamar · Pengajar pesantren

Saat anak minta pulang dari pondok, pahami penyebabnya dan sepakati bantuan bersama pengasuh. Panduan ini memuat contoh percakapan, rencana evaluasi, dan pertimbangan menjemput anak.

Diterbitkan Diperbarui
Ilustrasi santri berbicara dengan pengasuh yang mendengarkan di halaman pesantren.

Ketika anak tidak betah di pesantren dan minta pulang, mulailah dengan mendengarkan, memastikan ia aman, lalu mencari penyebab yang paling mengganggunya. Hubungi pengasuh untuk menyepakati bantuan yang konkret dan waktu meninjau perkembangannya. Keputusan menjemput atau melanjutkan mondok perlu mempertimbangkan keadaan anak, bukan hanya lamanya ia tinggal di pondok.

Kalimat “Aku ingin pulang” bisa berarti rindu keluarga, bingung mengikuti rutinitas, belum punya teman, atau ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Karena itu, jangan langsung menyimpulkan anak manja atau menganggap semua keluhannya hanya bagian dari adaptasi.

Langkah pertama saat anak minta pulang dari pondok

Saat menerima telepon, beri anak waktu menyampaikan cerita. Jika ia menangis, tenangkan percakapan tanpa memaksanya segera berhenti. Orang tua dapat mengatakan:

“Ayah dan Bunda dengar kamu sedang berat. Terima kasih sudah cerita. Kamu sekarang ada di mana, bersama siapa, dan apakah kamu merasa aman?”

Jika anak menyampaikan ancaman, kekerasan, atau keadaan tidak aman, segera hubungi orang dewasa yang dapat melindunginya secara langsung. Jangan menunggu jadwal telepon berikutnya. Jika tidak ada bahaya mendesak, lanjutkan percakapan untuk memahami masalahnya satu per satu.

Tiga hal yang perlu didapat dari percakapan awal adalah apa yang terjadi, bantuan yang dibutuhkan sekarang, dan siapa yang dapat mendampinginya di pondok. Anak tidak harus mampu menjelaskan semuanya dalam satu kali telepon.

Cari tahu penyebab anak tidak betah di pesantren

Gunakan pertanyaan terbuka terlebih dahulu: “Bagian mana yang paling berat hari ini?” Dengarkan jawabannya sebelum menawarkan dugaan. Beberapa hal berikut dapat ditelusuri bersama anak dan pengasuh.

Rindu rumah dan orang-orang terdekat

Anak mungkin merindukan kebiasaan makan bersama, percakapan sebelum tidur, atau teman di rumah. Tanyakan kapan rasa rindu terasa paling kuat dan apa yang biasanya membantu.

Sebuah penelitian kualitatif tentang homesickness pada santriwati baru, yang melibatkan lima santriwati dan dua ustazah, menggambarkan peran dukungan sosial, kegiatan, dan komunikasi keluarga dalam penyesuaian diri. Temuan dari kelompok kecil ini memberi konteks, bukan patokan bahwa semua anak mengalami proses yang sama.

Rutinitas dan kebutuhan sehari-hari masih terasa sulit

Mungkin anak belum memahami jadwal, cara mengambil makanan, atau sistem pencucian pakaian. Tanyakan kegiatan yang membuatnya kesulitan, lalu minta bantuan pengasuh untuk menjelaskan atau mendampingi bagian tersebut.

Jika masalahnya berkaitan dengan keterampilan praktis, pilih satu latihan yang relevan dari panduan kemandirian anak sebelum mondok. Jangan memberikan seluruh daftar tugas saat anak sedang kewalahan.

Belum menemukan teman atau tempat bercerita

Tanyakan dengan siapa anak biasanya duduk, belajar, atau makan. Tidak perlu menuntutnya segera memiliki banyak teman. Pengasuh dapat membantu mengenalkan teman sebaya melalui kegiatan yang sesuai dan memastikan ada orang dewasa yang mudah ditemui.

Ada masalah kesehatan, kebutuhan, atau rasa aman

Keluhan sakit, kesulitan makan, kurang istirahat, perlakuan menyakitkan, atau ketakutan terhadap seseorang perlu diperiksa sesuai keadaan. Jangan menebak penyebabnya hanya dari telepon singkat. Rindu rumah juga dapat terjadi bersamaan dengan masalah lain.

Jika anak menceritakan perundungan, dengarkan tanpa menyalahkannya dan utamakan perlindungan. Langkah lanjut tersedia dalam panduan mengatasi bullying pada anak.

Pertanyaan yang membantu tanpa membuat anak merasa diinterogasi

Pilih beberapa pertanyaan yang sesuai ceritanya, bukan membacakan semuanya sekaligus.

  • “Kejadian apa yang membuat kamu paling ingin pulang?”
  • “Sejak kapan bagian itu terasa sulit?”
  • “Bagaimana makan, tidur, dan kegiatanmu hari ini?”
  • “Apakah ada seseorang atau tempat yang membuat kamu takut?”
  • “Siapa yang sudah kamu mintai bantuan? Apa yang terjadi setelah itu?”
  • “Bantuan apa yang paling kamu butuhkan sekarang?”

Ulangi pemahaman orang tua dengan kalimat singkat: “Jadi yang paling berat adalah saat menjelang tidur karena kamu belum punya teman bercerita, benar begitu?” Beri kesempatan anak mengoreksi.

Hindari pertanyaan yang sudah menyisipkan kesimpulan, seperti “Pasti cuma kangen, kan?” Jika anak belum siap bicara, sepakati kesempatan berikutnya dan pastikan ia mengetahui orang dewasa yang dapat ditemui sekarang.

Cara mendampingi santri baru yang homesick

Setelah kebutuhan dan keselamatannya diperiksa, buat dukungan yang dapat dijalankan di pondok. Tidak semua cara cocok untuk setiap anak; pilih bersama anak dan pengasuh.

Buat komunikasi yang dapat diperkirakan

Ikuti jadwal pesantren dan pastikan anak memahami kapan dapat berkomunikasi dengan keluarga. Saat mengakhiri telepon, sebutkan langkah berikutnya yang memang bisa dipenuhi. Misalnya, orang tua akan berbicara dengan wali kamar dan memberi kabar melalui jalur yang disepakati.

Tidak ada satu frekuensi telepon yang cocok untuk semua santri. Bila anak selalu sangat kesulitan setelah telepon, bicarakan durasi, waktu, dan bentuk pendampingannya dengan pengasuh. Jangan memutus akses bantuan sebagai hukuman.

Untuk percakapan rutin di luar keluhan mendesak, gunakan 12 pertanyaan saat berkomunikasi dengan anak di pesantren sebagai pilihan pembuka obrolan.

Pilih satu kegiatan kecil yang membuatnya terlibat

Ajak anak memilih langkah sederhana: menyapa teman saat makan, mengikuti kegiatan yang disukai, atau menemui wali kamar sebelum waktu yang terasa berat. Kegiatan bukan untuk membungkam keluhan, melainkan memberi kesempatan membangun pengalaman yang lebih nyaman.

Doa dan ibadah dapat menjadi bagian dukungan sesuai kebiasaan anak. Tetap dengarkan persoalan konkretnya dan bantu menyelesaikan kebutuhan yang muncul.

Kenalkan orang dewasa yang dapat diandalkan

Nama dan tempat menemui pengasuh perlu jelas. Latih kalimat singkat: “Ustaz, saya sedang sedih dan ingin bercerita.” Bila orang pertama tidak tersedia atau belum membantu, anak perlu mengetahui pilihan orang dewasa tepercaya lainnya.

Untuk keluarga yang masih menyiapkan keberangkatan, jalur komunikasi dan bantuan sebaiknya dibicarakan sejak awal. Gunakan checklist persiapan anak masuk pesantren sebagai bahan percakapan bersama.

Contoh pesan kepada pengasuh pesantren

Sampaikan keluhan melalui jalur privat kepada petugas yang berwenang. Pisahkan cerita anak dari kesimpulan orang tua. Contoh berikut bersifat ilustratif dan dapat disesuaikan:

“Assalamu’alaikum, Ustaz/Ustazah. Saat telepon tadi, anak kami mengatakan sulit tidur dan merasa sendirian menjelang malam. Ia meminta pulang. Kami ingin memahami keadaannya dan bekerja sama mendampingi. Mohon bantuan untuk berbicara dengannya secara privat serta melihat kondisi makan, istirahat, dan pergaulannya. Siapa yang dapat mendampingi, bantuan apa yang bisa dimulai, dan kapan kita dapat meninjau perkembangannya?”

Jika ada keluhan tentang seseorang, sampaikan fakta yang diketahui tanpa menyebarkan identitas atau tuduhan ke grup wali santri. Minta langkah perlindungan yang jelas sambil proses klarifikasi berjalan. Keselamatan anak tidak perlu menunggu semua keterangan terkumpul.

Sepakati rencana bantuan dan evaluasi yang jelas

Percakapan akan lebih berguna jika menghasilkan tindakan. Catat empat hal berikut bersama pengasuh:

  • Kesulitan utama: misalnya anak merasa sendirian menjelang tidur.
  • Bantuan yang disepakati: misalnya wali kamar mengecek keadaan dan membantu anak mengenal teman sekamar.
  • Penanggung jawab: nama atau peran orang dewasa yang dapat dihubungi.
  • Waktu meninjau kembali: tanggal atau kesempatan komunikasi yang disepakati sesuai kebutuhan anak.

Saat meninjau perkembangan, tanyakan apa yang berubah dalam makan, istirahat, kegiatan, dan rasa aman anak. Perhatikan pula apakah bantuan yang dijanjikan benar-benar terlaksana. Berkurangnya keluhan saja belum cukup jika anak justru merasa tidak boleh bercerita.

Tidak perlu menetapkan target “harus betah dalam tujuh hari”. Jika keadaan memburuk sebelum jadwal evaluasi, hubungi pengasuh lebih cepat dan ubah rencana bantuan.

Kapan perlu menjemput atau mencari bantuan profesional?

Menjemput bukan otomatis berarti gagal mendidik, dan melanjutkan mondok bukan otomatis pilihan terbaik. Pertimbangkan keselamatan, kebutuhan anak, dukungan yang tersedia, serta pendapat anak dalam keputusan bersama.

Segera bertindak bila ada ancaman keselamatan, kekerasan, keadaan medis mendesak, atau anak mengatakan ingin melukai diri. Pastikan orang dewasa tepercaya mendampinginya secara langsung dan hubungi layanan darurat atau IGD setempat jika ada bahaya segera.

Untuk kesulitan yang menetap, memburuk, atau mengganggu makan, tidur, belajar, dan hubungan sehari-hari, bicarakan pemeriksaan dengan dokter atau psikolog anak. NIMH menjelaskan perlunya bantuan ketika emosi atau perilaku anak menimbulkan tekanan atau mengganggu kegiatan sehari-hari, serta bantuan segera jika perilakunya tidak aman. Daftar ini bukan alat diagnosis; orang tua tidak perlu menunggu hingga semua tanda muncul.

Jika kebutuhan pendampingan belum dapat dipenuhi oleh pesantren, bahas pilihan yang realistis, termasuk penyesuaian layanan, jeda tinggal, atau pilihan pendidikan lain. Prosedur administrasi dapat dibicarakan sambil tetap mengutamakan keselamatan dan kebutuhan anak.

Kalimat yang sebaiknya dihindari

“Jangan bikin malu”, “Kamu kurang kuat”, atau “Pokoknya tidak boleh pulang” dapat membuat percakapan berhenti sebelum persoalan dipahami. Sebaliknya, janji “Besok pasti dijemput” juga sebaiknya tidak diberikan jika orang tua belum memastikan langkahnya.

Gunakan pernyataan yang jujur dan dapat ditindaklanjuti: “Kami akan mendengarkan dan membantu mencari jalan keluarnya. Sekarang kita pastikan kamu aman, lalu bicara dengan pengasuh tentang bantuan yang kamu perlukan.”

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa lama anak biasanya beradaptasi di pesantren?

Tidak ada durasi yang dapat dijadikan batas untuk semua anak. Nilai perkembangannya dari kebutuhan sehari-hari, rasa aman, dan dukungan yang tersedia. Kesulitan yang makin berat perlu ditangani tanpa menunggu masa adaptasi tertentu selesai.

Apakah anak yang menangis saat telepon harus langsung dijemput?

Tangisan perlu didengarkan, tetapi keputusan tidak ditentukan oleh tangisan saja. Periksa apa yang terjadi, keadaan anak saat ini, dan bantuan yang bisa diberikan. Bila ada bahaya atau kebutuhan mendesak, segera ambil langkah perlindungan.

Apakah orang tua harus mengurangi kunjungan agar anak cepat betah?

Tidak ada aturan tunggal yang sesuai untuk setiap anak. Ikuti ketentuan pesantren sambil membicarakan kebutuhan pendampingan anak. Evaluasi dampak komunikasi dan kunjungan bersama pengasuh; akses bantuan penting tetap harus tersedia.

Bagaimana jika pengasuh mengatakan anak terlihat baik-baik saja?

Sampaikan pengamatan secara spesifik, termasuk kapan anak mengeluh dan apa yang dikatakannya. Anak dapat menunjukkan keadaan berbeda pada waktu atau orang yang berbeda. Minta percakapan privat dan tindak lanjut, lalu dengarkan kembali pengalaman anak.

Bagaimana jika anak sudah lama mondok tetapi tiba-tiba ingin pulang?

Cari tahu perubahan yang terjadi, bukan menganggapnya mengulang adaptasi awal. Tanyakan rutinitas, kesehatan, pertemanan, kegiatan, dan rasa amannya. Libatkan pengasuh untuk memahami situasi serta menyepakati bantuan yang sesuai.

Langkah terpenting setelah anak bercerita adalah memastikan ada orang yang mendampinginya dan bantuan yang benar-benar dijalankan. Anak perlu mengetahui bahwa rasa rindunya didengar, kesulitannya diperiksa, dan keselamatannya tetap diperhatikan.

Langkah berikutnya

Belajar lebih terstruktur bersama Rumah Santri

Sampul Santri Tangguh

Dampingi Anak dari Jauh dengan Lebih Terarah

Ebook Santri Tangguh membahas bekal mental, keberanian meminta bantuan, membaca sinyal dari jauh, tabayyun, dan kerja sama dengan pesantren. Gunakan sebagai bahan belajar pendampingan orang tua.

Rp 49.000